SURABAYA https://mediarestorasiindonesia.co.id Sedekah bumi merupakan suatu upacara adat yang esensinya menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi. Upacara ini sangatlah Populer di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Begitu pula halnya yang dilakukan masyarakat Desa Banjar Melati Kel. Jeruk salah satu desa yang terletak di kecamatan Lakarsantri, kota Surabaya ini sedari dulu melestarikan salah satu kearifan lokal ini.(16/10/24).
Waktu pelaksanaan Sedekah Bumi di Desa Banjar Melati ditentukan oleh hasil Keputusan musyawarah warga bersama pengurus lingkungan. Di tahun 2024 ini rangkaian Sedekah Bumi dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Oktober 2024 hingga Senin, 14 Oktober 2024 dengan bertemakan “BERBAGI”. Tradisi ini dilaksanakan di balai RW dan juga punden sebagai tempat yang disakralkan di Desa Banjar Melati. pelaksanaan upacara adat Sedekah Bumi pun harus bergilir mengikuti jadwal yg telah ditentukan oleh panitia dan pengurus lingkungan setempat.
Sabtu Malam (12/10/24) sekira pukul 19.30 WIB Warga menggelar acara istigosah dan doa bersama yang bertujuan untuk mendo’akan sesepuh pinisepuh yang babat alas desa Banjar Melati dan juga keluarga para ahli kubur. semua warga berduyun-duyun berkumpul dengan membawa tumpeng. Melengkapi hidangan tersebut ada beberapa jajanan khas yang selalu ada saat Sedekah Bumi seperti, rengginang, tape beras ketan, kue kucur, pisang dan juga onde-onde. Hidangan ini kemudian dikumpulkan untuk dibacakan do’a oleh Modin Desa kemudian dimakan bersama -sama.
Keesokan harinya seluruh warga menggelar sebuah acara kirab, dimana dalam kirab budaya sedekah bumi tersebut, warga menampilkan tarian dengan pakaian adat untuk menghibur warga sekitar. Selain itu, warga juga membawa hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan yang dibentuk seperti bunga dan juga dibuat menjadi gunungan atau tumpeng.
Warga menari dan berjoget heboh berkeliling di sepanjang jalan perkampungan. Usai keliling menghibur warga, hasil bumi yang sudah dibentuk atau di hias tersebut dibawa di pinggir jalan kemudian dibagikan kepada ratusan warga seperti pengguna jalan dan juga warga yang menonton.
Menurut Jopram, Pengurus lingkungan Banjar Melati, kirab budaya merupakan bentuk pelestarian budaya dan juga tradisi leluhur. Sedangkan sedekah bumi sebagai bentuk wujud syukur kepada sang Pencipta atas hasil bumi dan rejeki yang melimpah.
“Setiap tahun kita menggelar kirab budaya dan sedekah bumi, tahun ini ada enam ancak hasil bumi, salah satunya yang dibentuk seperti bunga. Yakni bermakna bahwa hati kita sedang berbunga-bunga atau senang atas berkah yang luar biasa diberikan oleh sang Pencipta.,” ungkap Jopram selaku Pengurus lingkungan.
Tradisi Sedekah Bumi juga digelar di punden, warga juga berbondong-bondong membawa tumpeng dengan tujuan yang sama sebagai bentuk rasa syukur dan juga menghargai sesepuh pinisipuh atau mbah buyut yang babat alas desa Desa Banjar Melati. Acara tersebut dilengkapi dengan pertunjukan seni Langen Tayub. Tayub merupakan salah satu kesenian Jawa yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak dan tembang jawa dilantunkan pesinden yang disebut waranggana. Pertunjukan tari langen tayub ini, melibatkan penonton terutama laki-laki untuk berpatisipasi langsung menjadi pasangan waranggana yang menari.
Sementara, Mariono selaku ketua panitia menambahkan, warga yang ikut partisipasi di gelaran kirab budaya dan sedekah bumi tahun ini, ada enam RT. malamnya juga ada pertunjukan seni ludruk “GAPURA JAYA” dari Surabaya. Dan Senin Malam (14/10/24) ditutup acara Pengajian Umum dan Sholawatan yakni “BANJAR MELATI BERSHOLAWAT dan PENGAJIAN UMUM”. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Lurah Jeruk (Bu. Nur Hayati) dan juga forum pimpinan kecamatan (forkopimcam), diantaranya Camat Lakarsantri (Pak. Yongky) Kapolsek (Kompol M. Akhyar).
“Kirab budaya dan sedekah bumi, menjadi ajang silaturrahmi antar warga, bersama riang gembira dalam satu acara. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, atas nikmat dan karunia yg telah diberikan. Tradisi sedekah bumi ini juga ditutup dengan acara pengajian umum dan sholawatan agar diberikan keberkahan dan kelancaran selalu untuk seluruh warga Banjar Melati,” pungkas Mariono.
Tradisi Sedekah bumi ini merupakan bukti bahwa budaya jawa dan ajaran islam dapat berjalan beriringan tanpa menghilangkan salah satu dari keduanya. Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan, ungkapan rasa syukur serta kepedulian terhadap lingkungan. Tradisi ini juga dapat menjadi ladang rejeki bagi para pedagang kaki lima. Dimana mereka semua bisa berjualan di sekitar lokasi acara.
Namun di era yang begitu modern ini, santapan budaya asing sangat luar biasa, menjadikan tantangan tersendiri bagi masyarakat desa untuk dapat melestarikan tradisi budaya ini. Kami berharap usaha bersama dari masyarakat lokal, pemerintah, dan semua pihak yang terlibat, tradisi ini akan terus hidup dan lestari sampai generasi masa depan.(M.A.C).