Surabaya https://mediarestorasiindonesia.co.id Dalam mendukung penghapusan kekerasan dan diskriminasi gender terhadap perempuan, Departemen Pergerakan Kesetaraan Gender BEM FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur mengadakan serangkaian kegiatan kampanye dalam rangka merayakan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP).
Serangkaian kegiatan kampanye tersebut, satu di antaranya ialah Kampanye luring yang diselenggarakan di Taman Bungkul, Kota Surabaya pada hari Minggu, 1 Desember 2024 lalu. Kampanye tersebut tidak hanya bertujuan untuk mengenalkan kegiatan 16 HAKTP kepada masyarakat luas, tetapi turut pula meningkatkan kesadaran serta mengajak mereka untuk melakukan penghapusan kekerasan dan diskriminasi gender, terutama kepada perempuan.
Kampanye luring bertajuk Voice of Change: Be Yourself ini turut mengajak beberapa komunitas lain, seperti Girl Up UPN “Veteran” Jawa Timur hingga Duta Puteri Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan Jawa Timur 2024 guna memperkuat hubungan dalam memutus rantai kekerasan gender.
Kampanye Voice of Change: Be Yourself ini terdiri dari beberapa kegiatan yang dilakukan untuk menarik pengunjung car free day, seperti interactive space maupun orasi. Adapun, interactive space yang merupakan bagian dari kampanye ini dilakukan dengan cara mengajak pengunjung untuk terlibat langsung dalam menyuarakan keresahan yang mereka rasakan.
Interactive space yang diberikan oleh BEM FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur berupa pengisian kolom pertanyaan, yakni “Apa kamu pernah merasa di-catcalling?”, “Apa kamu pernah dikomentari tentang gaya berpakaian?”, “Apa kamu pernah menjadi korban kekerasan verbal?”, serta “Apa kamu pernah dijadikan sasaran kekerasan fisik?” menggunakan stiker yang disediakan oleh panitia. Tidak berhenti sampai di situ, apresiasi terhadap keberanian pengunjung yang melakukan pengisian interactive space turut dilakukan lewat pembagian permen oleh panitia.
“Biasanya paling sering dapet catcalling, sih. Bikin resah banget,” tutur salah satu pengunjung seusai melakukan interactive space dengan mengisi kolom pertanyaan menggunakan stiker. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pelecehan terhadap perempuan masih marak dilakukan, terutama catcalling yang dianggap lazim.
Tidak hanya interactive space, kegiatan yang lebih serius seperti orasi turut dilakukan. Orasi yang disuarakan tentunya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar, baik mengenai hadirnya kegiatan kampanye 16 HAKTP maupun mengenai penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.
Tidak hanya lewat interactive space dan orasi, kegiatan kampanye yang dilakukan oleh mahasiswa BEM FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur turut dilakukan lewat pembagian brosur mengenai definisi umum 16 HAKTP, linimasa kegiatan 16 HAKTP, serta penyebaran qr code yang berisi google form sebagai bentuk pengaduan dan ruang aman bagi korban kekerasan dan diskriminasi gender untuk menunjukkan keresahan dan kegelisahan pengunjung. Terlihat lewat interaksi pengunjung terhadap kampanye Voice of Change, kekerasan dan diskriminasi gender, khususnya terhadap perempuan masih marak dilakukan.
Sayangnya, hal-hal tersebut kerap dilakukan hingga dapat dianggap lazim oleh masyarakat, contohnya ialah catcalling. Oleh karena itu, kampanye luring bertajuk Voice of Change maupun serangkaian kegiatan 16 HAKTP lainnya yang dilakukan oleh BEM FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur menjadi salah satu langkah baik untuk menghentikan kekerasan gender terhadap perempuan.
“Dengan adanya kegiatan 16 HAKTP ini, kita menyuarakan bahwa sosok perempuan harus merasakan kesetaraan, karena selama berabad abad, mereka selalu merasakan diskriminasi. Hal itulah yang harus kita hentikan saat ini,” ucap Nabila Eka Agustin selaku Puteri Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan lewat closing statement pada kampanye Voice of Change. Lewat interactive space, orasi, hingga penyebaran brosur yang disambut ramah oleh masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kekerasan dan diskriminasi gender perlu dihentikan untuk melindungi hayat setiap jiwa.
Lewat kampanye Voice of Change pula, diharapkan bahwa masyarakat sekitar dapat meningkatkan kesadaran untuk menyediakan ruang aman bagi segala gender. khususnya perempuan, dimulai dari menghentikan pelecehan gender yang kini mulai dianggap lazim.(M.A.C)