Surabaya https://mediarestorasiindonesia.co.id Kesetaraan gender semakin menjadi perbincangan hangat di kalangan publik saat ini, dengan banyaknya pandangan pro dan kontra yang muncul. Pemahaman masyarakat tentang arti sejati dari kesetaraan gender masih terbatas, yang seringkali menimbulkan pernyataan-pernyataan kontroversial. Oleh karena itu, membuka forum diskusi terbuka yang dapat menampung berbagai pandangan merupakan langkah penting untuk memperluas wawasan dan mendalami isu ini.
BEM FISIP UPNVJT mengambil inisiatif untuk menggelar Gelanggang Kesetaraan, sebuah forum diskusi terbuka yang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk turut bersuara mengenai kesetaraan gender bagi perempuan dan laki-laki. Kegiatan ini menjadi wadah yang memungkinkan setiap peserta untuk mengungkapkan pendapat dan menciptakan ruang dialog yang konstruktif.
Pada tanggal 6 Desember 2024, acara ini menghadirkan tiga narasumber berkompeten, yaitu Muhammad Aditya Ramadhani, Duta Perlindungan Anak 2024, Niken Tiara Ayu Baskoro, Duta Perlindungan Anak 2023, serta Belladina Putri Aryani Kusnandar, Presiden Girl Up Unesa. Mereka berbagi pengalaman dan pandangan tentang kesetaraan gender dalam masyarakat.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, acara ini dimulai dengan Social Group Discussion, di mana peserta dibagi menjadi dua kelompok yang membahas topik-topik penting terkait gender: Dampak Stereotip Gender terhadap Pilihan Karir dan Perspektif Global tentang Stereotip Gender dalam Pekerjaan. Diskusi yang berlangsung sangat hidup dan interaktif ini menghasilkan berbagai pemikiran kritis.
Salah seorang peserta menyampaikan pendapat yang menggugah, “Stereotip gender sudah kita alami sejak kecil, bahkan di rumah. Anak perempuan disuruh bersih-bersih rumah, sedangkan anak laki-laki dianggap tidak perlu melakukan hal tersebut,” ujar seorang audiens saat menyampaikan pendapatnya pada 6 Desember 2024. Tanggapan serupa pun mengalir, memperkaya diskusi dengan perspektif yang semakin luas dan membuka pikiran para peserta.
Diskusi semakin mendalam saat narasumber memaparkan materi mengenai kesetaraan gender, berbagi pengalaman, dan memberikan pandangan mereka tentang bagaimana stereotip gender terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. “Kesetaraan gender bukan tentang kekuatan fisik, tetapi tentang kecerdasan dan kemampuan. Sejak lahir, kita sudah dibentuk oleh pandangan masyarakat yang berbeda terhadap perempuan dan laki-laki,” ungkap Muhammad Aditya Ramadhani, Duta Perlindungan Anak 2024 (09/12/2024).
Acara ini berlanjut dengan sesi tanya jawab yang sangat kondusif, di mana peserta memberikan pertanyaan yang dijawab oleh narasumber. Sesi ini semakin memperkaya pemahaman audiens tentang kesetaraan gender, terutama mengenai hak untuk memilih pekerjaan atau posisi tanpa adanya diskriminasi.
“Kesetaraan berarti memiliki hak dan kesempatan yang sama. Perempuan bisa memilih apa yang ingin mereka lakukan, begitu juga laki-laki, tanpa adanya diskriminasi. Hal ini tentu sejalan dengan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi keadilan sosial,” tegas Niken Tiara Ayu Baskoro, Duta Perlindungan Anak 2023.
Sebagai penutup, Moderator Gelanggang Kesetaraan, Sevtya Zahrotul Audina, menyampaikan kesimpulan yang menegaskan pentingnya pengakuan terhadap hak, potensi, dan kemampuan setiap individu, tanpa melihat gender.
“Melalui kegiatan seperti Gelanggang Kesetaraan ini, kita diingatkan bahwa kesetaraan gender bukan hanya soal pembagian tugas atau peran yang adil, tetapi juga tentang penghargaan terhadap hak setiap individu untuk berkembang dan berkontribusi. Semoga diskusi ini menjadi langkah awal menuju perubahan yang lebih baik dalam masyarakat kita,” ungkap Sevtya, yang kemudian menutup forum diskusi tersebut.
Kegiatan ini berhasil menciptakan ruang diskusi yang mendorong kesadaran kolektif tentang pentingnya kesetaraan gender, serta memberi harapan untuk masa depan yang lebih inklusif dan adil bagi seluruh individu, tanpa memandang jenis kelamin.(M.A.C)