Ziarah Muassis NU, Warga Dohoaggung Teguhkan Tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah

Berita Utama185 Dilihat

Gresik https://mediarestorasiindonesia.co.id Warga Desa Dohoaggung, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, menggelar ziarah kubur muassis Nahdlatul Ulama (NU) dan tokoh masyarakat desa sebagai bentuk penghormatan, doa, serta penguatan tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), Jumat (30/01/2024).

Ziarah kubur yang dilaksanakan di Makam Islam Desa Dohoaggung tersebut berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Ratusan warga dari berbagai kalangan mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembacaan tahlil, doa bersama, serta ayat-ayat suci Al-Qur’an yang ditujukan kepada para muassis NU dan tokoh-tokoh desa yang telah wafat.

Kegiatan ini dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus jama’ah keagamaan, perangkat desa, serta masyarakat umum. Kehadiran seluruh elemen tersebut mencerminkan kuatnya tradisi keislaman, ukhuwah, dan kecintaan warga terhadap ulama serta pendahulu yang telah berjasa dalam membangun kehidupan beragama dan sosial di Desa Dohoaggung.

Tokoh masyarakat Desa Dohoaggung, Abdul Wahid, menyampaikan bahwa ziarah kubur merupakan amalan yang memiliki nilai spiritual tinggi sekaligus menjadi tradisi luhur warga NU dalam mendoakan para ulama dan pendahulu.

“Ziarah ini adalah bagian dari tradisi NU yang sarat makna. Kita mendoakan para muassis dan tokoh desa yang telah berjuang menanamkan nilai keislaman, kebersamaan, dan akhlakul karimah di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan NU di Desa Dohoaggung tidak terlepas dari perjuangan para muassis dan tokoh agama terdahulu yang dengan ikhlas membimbing umat.

“Tanpa perjuangan mereka, tentu kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat tidak akan seperti sekarang. Ziarah ini menjadi wasilah agar generasi penerus tidak melupakan sejarah dan jasa para ulama,” tambahnya.

Masih menurut Abdul Wahid, kegiatan ziarah ini juga menjadi sarana pendidikan spiritual bagi generasi muda agar tetap berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

“Kami berharap anak-anak muda memahami bahwa tradisi NU seperti ziarah kubur bukan sekadar ritual, tetapi bentuk tawasul, doa, dan penghormatan kepada para ulama,” harapnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat dan juga tokoh agama sekaligus pengurus Jama’ah Yasin Desa Dohoaggung, Sugito, menyampaikan bahwa ziarah kubur memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keagamaan di tengah masyarakat.

“Ziarah ini mengajarkan kita untuk selalu ingat akhirat, memperbanyak doa, serta mempererat ukhuwah islamiyah antar warga,” tutur Sugito.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum memperkuat silaturahmi dan semangat gotong royong yang telah lama menjadi ciri khas warga Desa Dohoaggung.

“Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, semua dilakukan bersama-sama. Ini menunjukkan bahwa nilai kebersamaan dan tradisi NU masih sangat hidup di tengah masyarakat,” tambahnya.

Sugito berharap kegiatan ziarah kubur ini dapat terus dilestarikan sebagai agenda rutin keagamaan desa.

“Semoga tradisi ini terus dijaga, sehingga Desa Dohoaggung tetap menjadi desa yang religius, rukun, dan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah,” harapnya.

Selain sebagai bentuk penghormatan kepada para muassis NU dan tokoh masyarakat, ziarah kubur ini juga menjadi sarana memperkuat nilai religius, sosial, dan budaya masyarakat desa. Suasana khidmat, kebersamaan, dan kekeluargaan tampak jelas sepanjang kegiatan berlangsung.

Pemerintah Desa Dohoaggung mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan keagamaan tersebut. Melalui ziarah kubur muassis NU ini, diharapkan nilai-nilai keislaman, tradisi Aswaja, serta semangat persatuan masyarakat semakin kokoh sebagai pondasi membangun desa yang religius dan berkarakter.(Red)